Tampilkan postingan dengan label disrupsi digital. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label disrupsi digital. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Juli 2019

Jangan Remehkan Baca Buku, Begini CEO Speee Hadapi Revolusi Digital

Oleh : Mega Fransisca

Seberapa banyak buku yang kamu baca dalam setahun?
Kalau saya, jujur, hanya dua buku dalam setahun.

Hideki Otsuka


Jawaban CEO Speee Inc., Hideki Otsuka, atas pertanyaan saya mengenai hobinya baca buku menarik perhatian saya. Ratusan buku ia lahap dalam setahun.

Saya pun teringat dengan sebuah kutipan, “All leaders are readers”.

Otsuka adalah CEO Speee Inc., perusahaan induk dari Job-Like.com. Speee Inc. beroperasi di Tokyo, Jepang, sebagai perusahaan Web Marketing sejak 2007. Beberapa waktu yang lalu, Otsuka bertandang ke Jakarta untuk bertemu kami di kantor Job-Like.com.

Saya pun berkesempatan untuk berbincang dengannya. Adanya fasilitas perpustakaan di area Event Space, di kantor Speee di Tokyo membuat saya penasaran mengenai “keterikatan” dirinya dengan buku. Saya pun melontarkan pertanyaan mengapa ia getol membaca buku.

Mendengar pertanyaan saya, ia tertawa. Menurutnya, buku menjadi senjata pamungkas untuk melahirkan ide-ide bisnis baru. Kebiasaannya membaca buku sudah ia tanamkan jauh sebelum menjalani perannya sebagai pemimpin Speee. Ia justru telah membenamkan dirinya pada tumpukan buku ketika baru berencana untuk menjadi entrepreneur.

Untuk menjadi pebisnis yang sukses, pengetahuan mengenai banyak hal jelas mutlak dibutuhkan. Kebiasaannya menambah permodalan ilmu berlanjut ketika bisnisnya berkembang dan ia mengemban tanggung jawab besar sebagai seorang CEO.

Perpustakaan Speee di area Event Space (Foto: dok. Speee)


“Sebagai CEO, sebagai entrepreneur, hari terus mengalir, setiap 15 menit atau 30 menit ada rapat yang berbeda, bertemu banyak orang. Buku bisa menjadi sebuah umpan balik,” ujar Otsuka.

“Misalnya, hari ini ada hal-hal yang menyedihkan, ada yang menyenangkan, banyak hal terjadi. Setiap hari selalu mengalir. Tapi, dengan membaca buku kamu bisa berbalik melawannya. Membaca buku merupakan sebuah pembelajaran yang sebenarnya,” lanjutnya.

Kebiasaan membaca buku semakin penting bagi Otsuka mengingat bisnis yang dijalankannya bersinggungan dengan dunia teknologi. Pesatnya perkembangan teknologi menuntut dirinya untuk selalu update dan berpikir kreatif.

Jadi, untuk tetap bersaing dan terdepan, suntikan ilmu tak boleh berhenti. Ini salah satu kunci sukses dirinya.

“Sekarang ada banyak tantangan dari teknologi baru, blockchain salah satunya yang cukup teknis, sulit, dan ada banyak terminologi baru. Oleh karena itu, saya membaca buku-buku yang sarat pengetahuan, lebih berguna untuk bisnis. Saya harus tahu ide-ide baru untuk masa depan,” ucapnya.

Karyawan Speee Dapat Bujet Tahunan Membeli Buku

Budaya membaca buku tak hanya diterapkan Otsuka untuk dirinya sendiri. Tapi, ikut menulari para karyawan Speee setelah didirikannya perpustakaan di kantor.

Menariknya, upaya Speee untuk menumbuhkan minat membaca karyawan didukung dengan program pemberian bujet membeli buku tahunan bagi setiap karyawan.

“Ada keuntungannya buat karyawan. Mereka mendapatkan dana hingga Rp1,3 juta per bulan untuk membeli buku. Perusahaan akan membelikan buku buat mereka. Kalau kamu mau belajar sesuatu atau tertarik membaca sebuah buku tertentu, perusahaan yang membelikan untuk kamu,” bilang Otsuka.

Perbincangan saya dengan Otsuka memberikan saya insight segar. Sudah waktunya untuk saya membuka lembar-lembar tumpukan buku yang belum tersentuh di rumah. Bagi saya, membaca buku membawa saya ke alam liar petualangan.

Bagaimana dengan kamu?


Sumber : https://magazine-job--like-com.cdn.ampproject.org/c/s/magazine.job-like.com/kunci-sukses-ceo-membaca-buku/amp/

Jumat, 14 Desember 2018

Industri Digital : Disrupsi di Semua Sektor


Kompas, Jumat, 14 Desember 2018 : 10

 
Kredit foto : Katia Grimmer-Laversanne



















 Jika ada yang mengira disrupsi hanya ada di sebagian sektor, tak lama lagi ia akan terkena disrupsi. Pandangan seperti itu hanya menunggu waktu sebelum disrupsi muncul. Kesalahan mereka yang berpikir mapan adalah ketika sudah menggunakan gawai, mereka merasa sudah berubah. Padahal, salah satu hal yang mendasar adalah meninggalkan cara berbisnis lama dan memasuki cara berbisnis baru atau menempuh jalan yang berbeda dari sebelumnya.

Disrupsi akan mengenai semua sektor, mulai dari media, keuangan, jasa, hingga pendidikan dan manufaktur. Keberadaan teknologi digital mengubah era berbisnis di berbagai sektor. Di sisi paling mendasar, keberadaan gawai telah membuat cara berkomunikasi orang sangat berubah.

Keberadaan gawai dan perubahan gaya hidup telah membuat perubahan dalam cara berbisnis, misalnya di sektor pariwisata. Pengembangan destinasi dengan menonjolkan faslitas, layanan, dan potensi destinasi wisata ternyata tidak lagi mencukupi. 

Pengelola pariwisata perlu memberikan tawaran baru, yaitu pengalaman bagi pengunjung. Keberadaan gawai telah menjadikan kebutuhan itu ada di urutan tertinggi sehingga para pengelola harus memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk merasakan pengalaman, mulai dari berfoto hingga merasakan berbagai pengalaman yang bisa diekspresikan melalui media sosial. 

Belajar dari pengalaman tempat-tempat wisata yang sukses, pemerintah perlu membuat strategi yang sama untuk menciptakan daerah tujuan wisata baru. Jika sudah tercipta, langkah yang bisa dilakukan adalah membuat mitos mengenai daerah wisata itu sehingga bisa meningkatkan kunjungan wisata. Teknologi digital  mampu menaikkan daerah wisata tertentu ke permukaan karena bermodal menawarkan pengalaman kepada pengunjung.

Di sektor lain seperti manufaktur, jasa, pendidikan,dan lain-lain yang makin mengandalkan teknologi digital, disrupsi  hanya menunggu waktu untuk menelan perusahaan mapan dengan cara bisnis lama. Revolusi Industri 4.0 adalah kenyataan yang sedang berjalan. Perubahan sangat cepat sedang terjadi. Penggunaan teknologi digital semakin (meluas) dan membutuhkan sumber daya manusia memadai. Ilmu pengetahuan baru bermunculan dan mulai berkembang.

Peluang

Peluang pekerjaan ketika Revolusi Industri 4.0 berjalan, tidak sedikit, tetapi yang memenuhi syarat jumlahnya terbatas. Beberapa kali, sebuah perusahaan melakukan tes bagi calon pekerja dan menghadapi kenyataan bahwa kapasitas para calon pekerja jauh di bawah standar. Akar dari masalah ini adalah hanya sedikit lembaga pendidikan tinggi yang mampu menyediakan lulusan yang memiliki kemampuan pengembangan perangkat lunak.

Enomena ini menjelaskan, beberapa perusahaan teknologi digital Indonesia memilih untuk membuat kantor cabang di India. Langkah ini memudahkan mereka mencari talenta untuk membuat berbagai perangkat lunak yang dibutuhkan. Sebaliknya, beberapaperusahaan teknologi Malaysia dan Singapura membuka cabangnya di Yogyakarta dan beberapa kota lainnya untuk memburu talenta-talenta unggul. Beberapa pekerjaan pengembangan perangkat lunak dialihkan dari kedua negara itu ke Indonesia.

Akar dari masalah ini adalah pendidikan kita, baik kemampuan akademis maupun kemampuan non-akademis seperti kemampuan berkomunikasi, kemampuan berpikir kritis, bekerja dalam tim, kemampuan analisis, dan bernegosiasi. Data lama mengenai kemampuan bahasa, matematika, dan seni yang rendah di sekolah dasar dan menengah diperparah fenomena pengajaran yang belakangan kacau balau di lapangan. Selain itu, kompetensi guru tidak sesuai dengan mata pelajaran yang diampu.

Di perguruan tinggi, jurusan dan mata kuliah yang ditawarkan tidak berkesesuaian di lapangan. Birokrasi pada pengelolaan perguruan tinggi membuat mereka sulit menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Salah satu perkembangan yang perlu diadopsi perguruan tinggi adalah penggunaan teknologi digital. Banyak jurusan yang seharusnya mulai memasukkan beberapa mata kuliah teknologi, tetapi tak bisa melakukannya karena aturan.

Perubahan drastis perlu dilakukan di dalam  dunia pendidikan karena sejumlah pekerjaan bakal musnah dan pekerjaan baru bakal muncul. Jika perguruan tinggi di Indonesia masih bertahan dengan kurikulum lama dan jurusan-jurusan yang usang, mereka akan ikut menambah orang-orang yang tidak siap memasuki pekerjaan-pekerjaan baru. 

Belum lagi, jika tidak memiliki keterampilan tambahan yang dibutuhkan di era Revolusi Industri 4.0. Disrupsi bakal  menggulung mereka yang tidak mau berubah.***