Minggu, 14 Juli 2019

Ancaman VUCA Di Tengah Hidup Kita

Oleh : Bambang Haryanto 

Aktivitas senam minggu pagi ini (14/4/2019) agak kacau. 

Adalah seorang dokter di kampung saya yang mengajak pasien BPJS-nya untuk senam pagi bersama. Ide mulia. Praktek dari preventive medicine yang jitu. 

Masalah muncul hari ini : instruktur senamnya orang baru.  Mungkin ikut sindrom Hari Lebaran, yang lama resign dan orang baru hadir. Dia memakai lagu-lagu baru dan juga gerakan-gerakan baru. 

Ada seorang bapak memprotes. Gerakannya terlalu cepat, katanya. Sesi senam kedua, diganti yang berirama lebih pelan tetapi gerakannya lebih rumit. Protes tidak muncul tapi terdengar ngedumel di sana-sini. 

Pak dokter menengahi. Dia katakan, gerakan-gerakan baru itu bermanfaat. Yakni memaksa otak kita untuk meregister pengalaman baru, mendorong munculnya  cabang-cabang sinaps yang baru. Otak jadi dimudakan, menjadi lebih baik bekerjanya. 

Perubahan membawa konsekuensi. Seperti terwujud dari protes bapak tadi, kita catat bahwa setiap perubahan bagi sebagian orang adalah proses yang menyakitkan. 

Tetapi di masa kini, mau atau tidak mau, sadar atau tidak hirau, kita hidup di era VUCA. Masa serba gonjang-ganjing. Dimana perubahan, bahkan cepat dan tak terduga, adalah keniscayaan. 

Minggu depan, saya menunggu : instruktur senam yang baru itu masih bersama kami atau diganti oleh orang yang baru lagi.  

Phanta rei.

Kamis, 11 Juli 2019

Jangan Remehkan Baca Buku, Begini CEO Speee Hadapi Revolusi Digital

Oleh : Mega Fransisca

Seberapa banyak buku yang kamu baca dalam setahun?
Kalau saya, jujur, hanya dua buku dalam setahun.

Hideki Otsuka


Jawaban CEO Speee Inc., Hideki Otsuka, atas pertanyaan saya mengenai hobinya baca buku menarik perhatian saya. Ratusan buku ia lahap dalam setahun.

Saya pun teringat dengan sebuah kutipan, “All leaders are readers”.

Otsuka adalah CEO Speee Inc., perusahaan induk dari Job-Like.com. Speee Inc. beroperasi di Tokyo, Jepang, sebagai perusahaan Web Marketing sejak 2007. Beberapa waktu yang lalu, Otsuka bertandang ke Jakarta untuk bertemu kami di kantor Job-Like.com.

Saya pun berkesempatan untuk berbincang dengannya. Adanya fasilitas perpustakaan di area Event Space, di kantor Speee di Tokyo membuat saya penasaran mengenai “keterikatan” dirinya dengan buku. Saya pun melontarkan pertanyaan mengapa ia getol membaca buku.

Mendengar pertanyaan saya, ia tertawa. Menurutnya, buku menjadi senjata pamungkas untuk melahirkan ide-ide bisnis baru. Kebiasaannya membaca buku sudah ia tanamkan jauh sebelum menjalani perannya sebagai pemimpin Speee. Ia justru telah membenamkan dirinya pada tumpukan buku ketika baru berencana untuk menjadi entrepreneur.

Untuk menjadi pebisnis yang sukses, pengetahuan mengenai banyak hal jelas mutlak dibutuhkan. Kebiasaannya menambah permodalan ilmu berlanjut ketika bisnisnya berkembang dan ia mengemban tanggung jawab besar sebagai seorang CEO.

Perpustakaan Speee di area Event Space (Foto: dok. Speee)


“Sebagai CEO, sebagai entrepreneur, hari terus mengalir, setiap 15 menit atau 30 menit ada rapat yang berbeda, bertemu banyak orang. Buku bisa menjadi sebuah umpan balik,” ujar Otsuka.

“Misalnya, hari ini ada hal-hal yang menyedihkan, ada yang menyenangkan, banyak hal terjadi. Setiap hari selalu mengalir. Tapi, dengan membaca buku kamu bisa berbalik melawannya. Membaca buku merupakan sebuah pembelajaran yang sebenarnya,” lanjutnya.

Kebiasaan membaca buku semakin penting bagi Otsuka mengingat bisnis yang dijalankannya bersinggungan dengan dunia teknologi. Pesatnya perkembangan teknologi menuntut dirinya untuk selalu update dan berpikir kreatif.

Jadi, untuk tetap bersaing dan terdepan, suntikan ilmu tak boleh berhenti. Ini salah satu kunci sukses dirinya.

“Sekarang ada banyak tantangan dari teknologi baru, blockchain salah satunya yang cukup teknis, sulit, dan ada banyak terminologi baru. Oleh karena itu, saya membaca buku-buku yang sarat pengetahuan, lebih berguna untuk bisnis. Saya harus tahu ide-ide baru untuk masa depan,” ucapnya.

Karyawan Speee Dapat Bujet Tahunan Membeli Buku

Budaya membaca buku tak hanya diterapkan Otsuka untuk dirinya sendiri. Tapi, ikut menulari para karyawan Speee setelah didirikannya perpustakaan di kantor.

Menariknya, upaya Speee untuk menumbuhkan minat membaca karyawan didukung dengan program pemberian bujet membeli buku tahunan bagi setiap karyawan.

“Ada keuntungannya buat karyawan. Mereka mendapatkan dana hingga Rp1,3 juta per bulan untuk membeli buku. Perusahaan akan membelikan buku buat mereka. Kalau kamu mau belajar sesuatu atau tertarik membaca sebuah buku tertentu, perusahaan yang membelikan untuk kamu,” bilang Otsuka.

Perbincangan saya dengan Otsuka memberikan saya insight segar. Sudah waktunya untuk saya membuka lembar-lembar tumpukan buku yang belum tersentuh di rumah. Bagi saya, membaca buku membawa saya ke alam liar petualangan.

Bagaimana dengan kamu?


Sumber : https://magazine-job--like-com.cdn.ampproject.org/c/s/magazine.job-like.com/kunci-sukses-ceo-membaca-buku/amp/

Me Me Me vs You You You

Oleh : Bambang Haryanto


Anda bila di jalanan pasti mudah menemukan pesan dalam foto ini.
Bisa terpajang di warung-warung kaki lima sampai gerai kuliner di mal yang megah.

Ada masalah dari pesan tersebut?

Betul. Bila ditinjau dari psikologi komunikasi, pesan itu berorientasi kedalam, dimana penulis pesan mendongkrak dirinya sebagai subjek, me oriented, sementara (calon) konsumen semata sebagai objek.

Bagaimana kalau pesan itu diubah bunyinya menjadi "melayani pesanan"?
Bukankah kini konsumen jadi berubah menjadi subjek, pesan menjadi you oriented, konsumen menjadi fihak yang dihargai.

Filosofi berkomunikasi antara me oriented versus you oriented tersebut sebaiknya juga difahami oleh para pemburu kerja.

Posisikan diri Anda sejajar dengan perusahaan yang Anda lamar, namun dengan titik berat bahwa Anda bersiap melayani kebutuhan perusahaan dengan wawasan, inovasi dan keterampilan yang Anda miliki, untuk keberhasilan semua fihak.

Ada pendapat?

#komunikasibisnis
#pemburukerjamenjualsolusi

Selasa, 09 Juli 2019

Ketika Freshgrad Adalah Kupu-Kupu

Oleh : Bambang Haryanto 


"Persahabatan bagai kepompong.
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu.
Persahabatan bagai kepompong.
Hal yang tak mudah berubah jadi indah"

Potongan lirik dari sebuah lagu pop yang menarik. 

Metafora yang sama kiranya juga cocok untuk menggambarkan perjalanan seorang wisudawan.

Masa mahasiswa adalah masa sebagai ulat, yang rakus melahap ilmu pengetahuan. Masa jadi kepompong adalah masa saat merampungkan skripsi. Dan dirinya kemudian ibarat menjadi kupu-kupu yang belajar terbang setelah melepaskan toga wisudanya dan pesta di restoran menjadi kenangan indah. 

Kupu-kupu sarjana tersebut kemudian harus menghadapi realita kehidupan. Memasuki dunia kerja. Dirinya pun harus pula mengubah pola pikirnya, yang semula dari dunia akademis menjadi dunia profesional. 

Muluskah perubahan pola pikir itu? Dari baca-baca selintas kilas di situs Linkedin, perubahan sering nampak tidak terjadi. Apa mungkin karena lembaga career center di pelbagai perguruan tinggi yang (bila) ada belum berfungsi secara maksimal? 

Saya pikir itulah salah satu penyebab sehingga banyak sekali pemburu kerja yang sarjana itu terlunta-lunta dalam memperoleh pekerjaan impiannya! 

Ada pendapat?

Rabu, 26 Juni 2019

Apakah Anda Sebagai Mahasiswa Sesat, Yang Kebingungan Memilih dan Melamar Pekerjaan ?

Oleh : Bambang Haryanto
"Ketika besar nanti, kalian ingin menjadi apa, anak-anak ?”
Apabila pertanyaan ini diajukan kepada Anda, apa jawaban Anda ? Untuk anak-anak jaman dulu,  jawabannya sering  itu ke itu saja. Jadi dokter. Insinyur. Pilot. Presiden. 

Untuk anak masa kini, keponakan saya yang masih TK menjawab : Ingin menjadi Satpol Pamong Praja. Sementara seorang anak yang pernah ditanyakan cita-citanya  oleh Presiden Jokowi, ada yang menjawab : Ingin menjadi Youtuber.

Apabila anak-anak  tersebut  tinggal di negara maju, maka masing-masing sosok pekerja impiannya itu bisa dihadirkan di kelas mereka. Disebut sebagai Hari Karier, itulah momen menarik bagi orang tua murid untuk hadir di kelas anaknya, untuk menceritakan seluk-beluk pekerjaannya. Sejak dini anak-anak dikenalkan dengan dunia pekerjaan yang menjadi cita-citanya.

Kita lihat,dalam infografis terlampir,  bahwa dalam setiap jenjang pendidikan anak-anak  di Eropa dikenalkan dengan tahap-tahap pengembangan diri mereka.  Dari Taman Kanak-Kanak sampai perguruan tinggi. Kemudian seiring bertambahnya usia dan semakin tinggi pendidikannya, proses itu akan  mengerucut pada pengenalan keterampilan pekerjaan tertentu yang sesuai dengan minat sampai bakat yang mencocokinya.

Perbedaan yang mencolok kita lihat gambaran dalam dunia pendidikan di Indonesia. Nampak dunia pendidikan kita di jenjang apa pun didominasi oleh aktivitas belajar dan ujian. Sementara seluk-beluk pengenalan terhadap dunia pekerjaan dibuat menumpuk saat yang bersangkutan berstatus sebagai mahasiswa. 

Merujuk fakta tersebut boleh jadi selepas lulus pun para sarjana tersebut tidak tahu mau berbuat apa untuk melangkah ke dunia pekerjaan sesudah diwisuda. Mereka itulah yang kemudian disebut sebagai mahasiswa sehat !

Mahasiswa sesat. Adalah Dr. Hasanudin Abdurakhman dalam bukunya Melawan Miskin Pikiran : Memenangkan Pertarungan Hidup A la Kang Hasan (Nuansa Cendekian, 2016) telah menulis mengenai profil buram mahasiswa sesat tersebut. Ketika menjadi dosen di sebuah universitas negeri di Kalimantan, ia menceritakan pengalamannya. 

“Di hari pertama kuliah biasanya saya ajukan pertanyaan kepada para mahasiswa, ’Apa tujuanmu kuliah?’ Kebanyakan dari mereka gagap dalam menjawab pertanyaan ini. Mereka tak tahu untuk apa mereka kuliah. Sebagian menjawab klise, untuk menuntut ilmu. Tapi pertanyaan saya konkret, kamu mau jadi apa? Nanti setelah lulus akan bekerja sebagai apa? Sebagian besar tidak menyadari bahwa kelak mereka harus bekerja sebagai manusia mandiri.’”

Kini Kang Hasan, nama populernya di media sosial, menjabat General Manager for Business Development PT Toray Industries Indonesia. Juga merangkap jabatan sebagai manajer Indonesia Toray Science Foundation. Ketika memberikan kuliah umum di  pelbagai perguruan tinggi dirinya ingin menyebarkan pesan-pesan positif, bagi mahasiswa dan orangtuanya, terkait dinamika yang terjadi dalam dunia pekerjaan.

“Saya ke kampus dengan tujuan membawa pesan dari dunia nyata kepada para mahasiswa. Dunia nyata adalah dunia kerja, di mana setiap orang dituntut dengan suatu tanggung jawab, dan di mana orang harus berkompetisi. Kompetisi dimulai sejak di pintuk masuk ke dunia itu. Yang kalah tak akan bisa masuk, dan harus berada di dunia nyata yang lain, yaitu dunia pengangguran.

Ada mahasiswa yang sadar bahwa mereka harus masuk ke dunia kerja. Tapi mereka sama sekali tak mengenal dunia itu, dan tidak mempersiapkan diri untuk bersaing di pintu masuknya. Mereka tak tahu bagaimana pelajaran-pelajaran yang mereka tekuni di bangku kuliah akan terpakai di dunia kerja. Atau, mereka tak tahu bekal apa yang harus mereka kumpulkan selama kuliah.

Ada kasus klise yang sering saya lihat. Mahasiswa baru sadar bahwa kemampuan bahasa Inggris mereka parah saat mereka sudah lulus. Ketika mencari kerja gagal karena itu. Kemudian mereka baru mulai belajar, ikut kursus. Terlambat sudah. Penguasaan bahasa Inggris memerlukan waktu setidaknya 2 tahun. Mereka harus kehilangan waktu lagi. Padahal seharusnya hal ini dipersiapkan selama kuliah.

Saya pergi ke kampus-kampus, mengajak para mahasiswa membangun mimpi, menetapkan visi. Saya mengajak mereka menjalin kontak dengan mimpi itu. Saya mengajak mereka untuk membuat program persiapan menuju dunia kerja, dengan target terukur, dalam batas waktu yang jelas.

Sayangnya saya belum punya banyak kesempatan untuk bertemu dengan para orang tua. Para orang tua harus diingatkan bahwa tidak semua anak harus atau perlu kuliah. Ada begitu banyak orang sukses tanpa kuliah. Kuliah bukan jaminan sukses. 

Saya ingin mengajak mereka mengenal potensi setiap anak, dan mengarahkan mereka meraih sukses dengan mengembangkan potensi masing-masing.”

“Terima kasih, Kang Hasan. 
Semoga dunia perguruan tinggi di Indonesia mendengarkan pesan-pesan Anda.”
Sebagai mahasiswa atau fresh graduate, apa Anda juga mendengarkan pesannya ?

#berburupekerjaan
#duniakarier
#duniapekerjaan
#freshgrad
#mahasiswasesat    
#self-assessment

Senin, 17 Juni 2019

Inspirasi Karier Masa Kini A la Eden Hazard Untuk Anda

Oleh : Bambang Haryanto

Eden Hazard
Klub Manchester City kembali menjadi juara Liga Inggris 2018-2019. Saya ingat refrain lagu "Hey Jude" - nya The Beatles menggema di stadion saat ManCity jadi juara tahun 2012 silam. Lagu itu punya sejarah, menjadi hit di tahun 1968 dan saat itu pula ManCity menjadi juara. 

Namun ada kabar agak mengejutkan, ada pemain sayapnya Leeroy Sane akan pulang ke Jerman. Digoda untuk pindah ke klub raksasa Bavaria, Bayern Muenchen, yang ditinggal pensiun duo pemain sapit urang-nya yang sakti, Arjen Robben dan Frank Ribery. 

Kabar lain gelandang serang kreatif dari Chelsea, Eden "The Snake" Hazard,  dan jenderal lapangan tengah Manchester United, Paul "Pak Haji" Pogba, akan sama-sama cabut untuk berlabuh di San Bernabeau, markas Real Madrid,  Spanyol. Konon, Mo Salah dari Liverpool, akan menyusul. 

"From climbing to hopping : the contingent job and post-entrepreneural career," adalah bab dari bukunya Rosabeth Moss Kanter untuk bisa menjelaskan bagaimana pola karier para pesepakbola sohor itu kini semakin hot di era serba disrupsi masa kini. 
 
Dalam buku klasiknya,When Giants Learn to Dance (1989) Kanter menandaskan bahwa meniti karier dengan pola menapaki anak tangga, dimana semakin bertambahnya umur dan pengalaman akan otomatis mendorong seseorang sampai ke puncak karier, merupakan konsep yang usang di jaman VUCA (kredit untuk Pak Peter Febian, teman berbagi cerita di LinkedIn, yang banyak menjelaskan hal ini) masa kini. 

Untuk survive dalam meniti karier masa kini, orang harus memiliki keterampilan portable yang bisa dia bawa untuk melakukan job-hopping, dalam sepanjang hidupnya. 

Merujuk realitas itu maka keterampilan berburu pekerjaan yang andal adalah keterampilan default Anda, kini dan nanti,  dan nanti. 

Siapa tahu, perjalanan karier pesepakbola profesional seperti Sane, Hazard, Pogba, Robben dan Ribery, bisa menginspirasi Anda untuk terus mengasah keterampilan profesional Anda sehingga selalu up to date sehingga dibutuhkan oleh pasar kerja dimana pun Anda ingin bekerja. 

#berburupekerjaan
#jobhopping
#koneksiitukunci 
#vuca

Selasa, 19 Februari 2019

Ekonomi Digital, Unicorn dan Kesiapan Kita

Oleh : Pande K Trimayuni
Lulusan The London School of Economics and Political Sciences (LSE) Inggris dalam bidang pembangunan dan globalisasi. 

18 Februari 2019

Ekonomi digital adalah suatu keniscayaan zaman. Suka tidak suka, mau tidak mau, dunia memang sedang mengarah kesana. Pilihannya, ikut atau tertinggal. Terdengar kejam, tetapi begitulah kenyataannya. Ketika Pak Jokowi menyinggung tentang marketplace dan Unicorn dalam debat kedua putaran Pilpres (17/2/2019) menurut saya itu adalah sebuah bahasan yang normal saja, sangat wajar. Menjadi unicorn (startup yang nilai asetnya diatas 1 milliar dollar) atau bahkan decacorn (startup dengan nilai diatas 10 miliar dollar) adalah memang mimpi semua pegiat startup. 

Sekarang masalahnya, siapkah kita berada di era ini? Jika kita memang sudah siap, maka kita tidak perlu defensif jika presiden atau siapapun juga membahas tentang topik ini. Ini kenyataan hidup. Jika ingin maju dan tetap survive, kita harus tahu apa itu ekonomi digital dan bagaimana menghadapinya. 


Penulis Pande K Trimayuni bersama Presiden Jokowi (Foto: Istimewa)

Revolusi Industri 4.0 mencakup perubahan aktifitas perekonomian yang terjadi secara cepat saat ini, dimana model ekonomi konvensional yang kita kenal sudah berganti ke platform digital. Orang tidak perlu lagi pergi ke pasar hanya untuk beli beras atau pergi ke pengkolan untuk cari ojek karena sekali klik lewat smartphone, semua kebutuhan mereka terlayani. 

Menarik sekali mempelajari bagaimana pasar bisa berubah. Pengusaha pariwisata Bali yang biasa berhubungan dengan konsumen global pasti sangat paham. 30 tahun yang lalu, artshop-artshop sangat populer di Bali. Artshop adalah ladang dollar bagi seniman Bali. Jaman kemudian berubah, dari tradisi “artshop” ke tradisi “acung”. Mereka yang bisa mendapatkan banyak penjualan bukan lagi yang diam menunggu pembeli di artshop tetapi mereka yang menjemput pembeli, menawarkan barang dagangannya ke pantai-pantai dan objek-objek wisata. 

Sehingga kemudian muncul banyak OKB (Orang Kaya Baru) dari bisnis acung ini. Dan sekarang bagaimana? Tradisi Artshop dan Acung sudah digantikan dengan menjamurnya One Stop Shopping seperti jaringan Toko Krishna Bali dimana wisatawan dapat mencari semua kebutuhannya di satu tempat. Kehadiran One Stop shopping semacam ini mengancam pedagang-pedagang kecil yang hanya mampu menyediakan satu atau beberapa jenis barang saja. Ditambah lagi adanya kompetitor dari olshop (online shop) yang memberi kemudahan orang untuk memilih dan berbelanja maka semakin terpuruklah artshop-artshop tersebut. Begitulah perubahan dan kompetisi pasar terjadi. 

Ternyata yang lebih gesit bisa menangkap peluang ekonomi digital adalah anak-anak muda di bawah usia 40 tahun. Perubahan menurut mereka ukurannya bukan lagi bulan ataupun tahun, tetapi hari, menit bahkan detik. Saya punya sebuah pengalaman pribadi. Saya diminta menjadi konsultan sebuah perusahaan startup yang sudah cukup mapan di Indonesia untuk membuat rencana community engagement mereka. 

Startup ini pemilik dan staffnya semua anak-anak muda dibawah 40 tahun. Tetapi mereka sudah punya loyal customer sekitar 2 juta orang. Dan angka 2 juta orang itu mereka dapatkan kurang dari 4 tahun. Ketika saya membuatkan rencana community engagement untuk 1 tahun pertama, mereka protes. 

Kelamaan Bu, katanya. Lho, ini kalian mau memberdayakan masyarakat atau mau apa?, saya tanya. Mereka jawab, tetapi kalau satu tahun nanti tidak bisa ikut ritme perusahaan karena direction perusahaan bisa berubah setiap saat sesuai keadaan pasar. Akhirnya, saya membuatkan skema community engagement jangka panjang, jangka pendek dan kekinian seperti harapan mereka. Jadi begitulah. Ternyata anak-anak muda ini lebih terbuka, antisipatif dan progresif dalam menyambut perubahan. 

Mentalitas seperti inilah yang sebenarnya dibutuhkan di era digital ini. Cerdas, cepat dan (mesti) bijaksana. Perusahaan startup memang sangat menjanjikan seseorang sukses dengan cepat. Mereka tidak perlu melalui tangga karir untuk menjadi seorang milliunner. Tetapi perusahaan startup ini juga sangat rentan untuk ambruk jika tidak memiliki value dan integritas yang baik. 

Marketplace berbeda dengan pasar biasa. Para investor mau mengucurkan dana untuk sebuah startup hanya dengan melihat “potensi” dari startup tersebut 10, atau 20 tahun yang akan datang. Oleh karenanya banyak startup yang sekarang sebenarnya masih merugi dalam operasionalnya, tetapi mereka memiliki valuasi yang sangat tinggi, sampai jutaan bahkan milliaran dollar. Bisa dicek, berapa sebenarnya keuntungan rill yang dimiliki ole 4 Unicorn Indonesia saat ini, yaitu: Traveloka, Tokopedia, Gojek dan Bukalapak. 

Dalam kasus Bukalapak yang baru saja terjadi, kita bisa belajar bahwa bagaimana masa depan suatu startup sangat bergantung pada konsumennya. Ketika sudah tidak ada lagi kepercayaan konsumen/pasar terhadap suatu startup, maka habislah dia. Gerakan #uninstall Bukalapak berarti kerugian material yang sangat besar untuk perusahaan rintisan yang sudah bergelar unicorn tersebut. 

Syukurlah, Presiden Jokowi dengan bijaksana menghimbau agar masyarakat menghentikan gerakan uninstall bukalapak karena saat ini Indonesia memang sedang giat-giatnya mendorong tumbuhnya startup-startup yang berkualitas. 
Semoga kasus Bukalapak dan perdebatan tentang Unicorn dapat membuka mata kita tentang dunia yang kita hadapi saat ini. Syukur-syukur bisa menjadi pembelajaran untuk lebih maju lagi baik sebagai pribadi anak bangsa.